Aruna Muda: Fajar Baru dari Pesisir Alor
- Haries Sukandar

- 1 Agu
- 3 menit membaca
Diperbarui: 11 jam yang lalu
Pagi itu, ruang Aula KSP Kopdit Citra Hidup Tribuana di Kalabahi lebih ramai dari biasanya. Lima puluh wajah muda datang dari lima penjuru Alor. Teluk Mutiara, Kabola, Alor Barat Laut, Alor Tengah Utara, dan Alor Barat Daya, duduk berdampingan, mengenakan rompi cokelat berlambang yang sama. Mereka belum saling kenal betul, tapi hari itu, 27 Juli 2026, mereka mulai berbagi satu identitas: Aruna Muda.
Selama tiga hari, ruangan itu menjadi tempat lahirnya sebuah gagasan besar dari hal-hal kecil. Nautika Foundation, lewat Bimbingan Teknis Peningkatan Kapasitas Pelaku Pariwisata untuk Penguatan Ekonomi Daerah Berkelanjutan, mengundang mereka bukan sekadar untuk duduk dan mendengarkan. Di depan layar bertuliskan "Bimtek Wisata Bahari", satu per satu pemateri membuka wawasan peserta, soal konservasi lingkungan, pengelolaan destinasi wisata, pemberdayaan masyarakat, pengembangan UMKM, hingga kepemimpinan. Program ini terselenggara berkat kolaborasi dengan Kementerian Dalam Negeri dan Wanita Selam Indonesia (WASI).

Direktur Nautika Foundation, Hansen Oei, menyampaikan bahwa masa depan Alor tak hanya ditentukan oleh kekayaan lautnya, tapi oleh kesiapan generasi muda menjaga dan mengembangkannya secara bertanggung jawab. Bimtek ini dibuka mewakili Ketua Umum WASI Tri Suswati Tito Karnavian oleh Wakil Ketua WASI Tintin Riyanti, dengan apresiasi juga datang dari Pemerintah Kabupaten Alor yang diwakili Harun Al Rasyid Miran, Plt Asisten II Sekretariat Daerah.
Tapi cerita sesungguhnya tak hanya terjadi di atas panggung. Ia terjadi di meja-meja kecil, ketika peserta dibagi dalam kelompok-kelompok diskusi. Di salah satu sudut ruangan, empat anak muda menunduk bersama di atas selembar kertas plano, pena saling bersilangan, mencoret peta potensi kecamatan mereka sendiri. Ada yang serius menulis, ada yang menunjuk sambil berdebat kecil, caranya khas anak muda yang baru belajar bahwa suara mereka punya tempat dalam pembangunan daerahnya.

Hari berikutnya, kelas berpindah ke alam terbuka. Di bawah rindang pohon besar, dengan Teluk Kalabahi dan perbukitan sebagai latar, 50 peserta berkumpul dalam satu barisan panjang, sebagian mengangkat tangan, tertawa, seolah ingin memastikan momen itu terekam selamanya. Kegiatan lapangan ini membawa mereka turun langsung menyaksikan kondisi pesisir yang selama ini hanya mereka dengar lewat cerita orang tua: terumbu karang yang masih bertahan, garis pantai yang perlahan berubah, dan alasan mengapa pelestarian tak bisa lagi ditunda.

Dan seperti fajar yang selalu diikuti hari baru, Bimtek ini pun ditutup bukan dengan seremoni di dalam ruangan, melainkan dengan aksi nyata di tepi laut. Menjelang senja, saat langit Alor berubah keemasan, puluhan peserta berdiri di antara rimbun bakau yang baru saja mereka tanam sendiri. Bukan lagi sekadar peserta pelatihan, mereka pulang sebagai bagian dari sesuatu yang lebih besar: gerakan yang, seperti kata Hansen Oei, 'tumbuh dari kecamatan, desa, dan masyarakat.'
Lima kecamatan, lima cerita, satu semangat. Aruna Muda kini menjadi nama yang disematkan bukan hanya pada sebuah program, tapi pada harapan: bahwa generasi muda Alor akan menjadi penjaga pertama bagi laut yang membesarkan mereka, merawat karang, menanam bakau, dan membawa pulang pengetahuan baru ke kampung halaman masing-masing untuk terus tumbuh, bersama warganya.





Komentar