Nautika Foundation Memulai Program Konservasi Adaptif untuk Memperkuat Pengelolaan Terumbu Karang di Alor
- Nautika Foundation
- 2 hari yang lalu
- 4 menit membaca

Kalabahi, 29 Juni 2026Ā ā Nautika Foundation resmi memulai program āPenguatan Pengelolaan Ekosistem Terumbu Karang di Taman Perairan Kepulauan Alor melalui Konservasi Adaptif Berbasis Teknologi dan Kolaborasi Komunitasā.
Program yang mendapat dukungan dari Tropical Forest and Coral Reef Conservation Act atau TFCCA ini akan dilaksanakan selama 18 bulan. Pelaksanaannya diarahkan untuk memperkuat pengelolaan kawasan konservasi melalui pemanfaatan teknologi, peningkatan kapasitas masyarakat, penggunaan data, dan kolaborasi antara berbagai pemangku kepentingan di Kabupaten Alor.
Dimulainya program ditandai melalui kegiatan Kick-Off Program dan Forum Multipihak Tingkat Kabupaten yang diselenggarakan di Kalabahi. Forum ini menjadi ruang awal untuk membangun pemahaman bersama mengenai tujuan program, menyelaraskan peran setiap pihak, serta memperkuat koordinasi dalam menjaga keberlanjutan ekosistem terumbu karang di Taman Perairan Kepulauan Alor dan Laut Sekitarnya.
Memulai Program Bersama Masyarakat
Sebelum pelaksanaan kegiatan di tingkat kabupaten, Nautika Foundation terlebih dahulu menyelenggarakan sosialisasi program dan proses Persetujuan Atas Dasar Informasi Awal Tanpa Paksaan atau PADIATAPA di tiga desa sasaran.
Rangkaian kegiatan tersebut dilaksanakan di Desa Munaseli pada 22 Juni 2026, Desa Ternate pada 23 Juni 2026, dan Desa Alor Besar pada 25 Juni 2026.
Proses PADIATAPA menjadi bagian penting dalam pelaksanaan program. Melalui proses ini, masyarakat memperoleh informasi mengenai tujuan, manfaat, potensi risiko, serta rencana kegiatan program sebelum menyampaikan persetujuan secara sukarela.
Bagi Nautika Foundation, konservasi tidak dapat dijalankan hanya melalui pendekatan dari luar masyarakat. Masyarakat pesisir yang hidup dan berinteraksi langsung dengan sumber daya laut perlu terlibat sejak tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi program.
Karena itu, proses sosialisasi dan diskusi di tingkat desa melibatkan pemerintah desa, Badan Permusyawaratan Desa, Kelompok Masyarakat Pengawas atau Pokmaswas, nelayan, tokoh adat, tokoh masyarakat, perempuan, dan pemuda.
Kegiatan tersebut juga didampingi oleh UPTD Taman Perairan Kepulauan Alor dan Laut Sekitarnya, Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Alor, Universitas Tribuana Kalabahi, serta tim Nautika Foundation.
Mendengarkan Kebutuhan dari Tingkat Desa
Forum di tingkat desa tidak hanya digunakan untuk menjelaskan program, tetapi juga untuk mendengarkan pengalaman, kebutuhan, dan pandangan masyarakat mengenai pengelolaan kawasan konservasi.
Beberapa kebutuhan yang disampaikan antara lain penguatan kapasitas Pokmaswas, peningkatan sistem pemantauan kondisi laut, penyediaan informasi oseanografi yang dapat dipahami dan digunakan oleh masyarakat, serta perlunya koordinasi yang lebih kuat antara masyarakat, pemerintah, akademisi, dan organisasi pendukung.
Masukan tersebut menjadi bagian penting dalam penyempurnaan rencana implementasi program. Proses ini juga menunjukkan adanya komitmen masyarakat untuk berpartisipasi secara aktif dalam menjaga kawasan laut yang menjadi bagian dari kehidupan dan sumber penghidupan mereka.
Nautika Foundation memandang bahwa pengetahuan lokal, pengalaman masyarakat, data ilmiah, dan dukungan teknologi perlu ditempatkan dalam satu kerangka pengelolaan yang saling melengkapi.
Memperkuat Kolaborasi di Tingkat Kabupaten
Setelah rangkaian kegiatan di tingkat desa, Nautika Foundation menyelenggarakan Kick-Off Program dan Forum Multipihak Tingkat Kabupaten.
Forum tersebut mempertemukan Pemerintah Kabupaten Alor, Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Nusa Tenggara Timur, UPTD Taman Perairan Kepulauan Alor dan Laut Sekitarnya, Bapperida Kabupaten Alor, Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Alor, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, BMKG, Polres Alor, Kodim 1622/Alor, Pos Angkatan Laut Pulau Alor, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, Pokmaswas, Universitas Tribuana Kalabahi, serta sejumlah mitra pembangunan.
Dalam forum tersebut, hasil pelaksanaan PADIATAPA di tiga desa disampaikan kepada para pemangku kepentingan. Para pihak juga mendiskusikan arah pelaksanaan program, bentuk dukungan yang dibutuhkan, serta peluang kolaborasi selama program berlangsung.
Pertemuan ini menjadi fondasi untuk membangun pengelolaan kawasan konservasi yang lebih terkoordinasi, partisipatif, dan responsif terhadap perubahan kondisi lingkungan.

Mengintegrasikan Teknologi, Data, dan Partisipasi Komunitas
Program ini mengusung pendekatan konservasi adaptif berbasis teknologi dan kolaborasi komunitas. Pendekatan adaptif berarti pengelolaan kawasan tidak dilakukan dengan cara yang statis, tetapi terus disesuaikan berdasarkan data, perubahan kondisi ekosistem, pengalaman masyarakat, dan hasil evaluasi di lapangan.
Selama 18 bulan pelaksanaan, program akan berfokus pada empat area utama. Pertama, pengembangan sistem pemantauan oseanografi berbasis teknologi yang dikembangkan oleh Institut Teknologi Bandung yang dipimpin oleh Dr. Iwan Pramesti Anwar, S.Si., M.Si untuk membantu menghasilkan informasi mengenai kondisi perairan. Kedua, penguatan kapasitas Pokmaswas sebagai kelompok masyarakat yang memiliki peran penting dalam pengawasan dan perlindungan sumber daya laut. Ketiga, peningkatan pemanfaatan data sebagai dasar dalam pengambilan keputusan pengelolaan kawasan konservasi. Keempat, penguatan koordinasi multipihak untuk mendukung pengelolaan Taman Perairan Kepulauan Alor yang lebih efektif dan berkelanjutan.
Direktur Nautika Foundation, Hansen Oei, menekankan bahwa keberhasilan konservasi tidak hanya bergantung pada keberadaan teknologi dan kebijakan. Keterlibatan masyarakat yang hidup berdampingan dengan laut merupakan bagian utama dari keberhasilan pengelolaan kawasan.
Teknologi dalam program ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan peran masyarakat. Sebaliknya, teknologi diharapkan dapat menjadi alat pendukung yang membantu masyarakat dan pengelola kawasan memperoleh informasi, memahami perubahan kondisi laut, dan mengambil keputusan dengan lebih baik.
Menuju Pengelolaan Laut Alor yang Lebih Adaptif

Melalui dukungan TFCCA dan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, Nautika Foundation berharap program ini dapat berkontribusi terhadap pengembangan model pengelolaan kawasan konservasi yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan, teknologi, tata kelola, dan partisipasi masyarakat.
Upaya menjaga ekosistem terumbu karang tidak hanya berkaitan dengan perlindungan keanekaragaman hayati. Kesehatan ekosistem laut juga berhubungan langsung dengan ketahanan sosial dan ekonomi masyarakat pesisir yang bergantung pada sumber daya tersebut.
Kick-off ini menjadi awal dari proses kolaborasi selama 18 bulan ke depan. Nautika Foundation berkomitmen untuk menjalankan program secara terbuka, partisipatif, dan berbasis data, dengan masyarakat sebagai mitra utama dalam menjaga keberlanjutan laut Kepulauan Alor.
Melalui kerja bersama, kami berharap laut Alor dapat terus menjadi ruang hidup yang sehat bagi ekosistem, masyarakat pesisir, dan generasi yang akan datang.




Komentar