Merawat Warna Alam, Menguatkan Tenun Alor
- Haries Sukandar

- 2 hari yang lalu
- 3 menit membaca
Jauh sebelum pewarna tekstil modern dikenal luas, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia telah memanfaatkan alam untuk memberi warna pada kain dan benang. Daun, akar, kulit kayu, lumpur, hingga mineral alami digunakan untuk menghasilkan warna yang tidak hanya indah, tetapi juga menyimpan cerita tentang lingkungan dan budaya tempat kain itu berasal.
Di Alor, pengetahuan seperti ini sebenarnya masih hidup di tengah masyarakat penenun. Beberapa bahan alami lokal telah lama dikenal sebagai sumber warna untuk tenun, meskipun dalam praktiknya menjaga kestabilan warna alami bukan hal yang mudah. Warna bisa berubah, cepat pudar, atau menghasilkan hasil yang berbeda meskipun menggunakan bahan yang sama.
Karena itu, Rumah Sentra Tenun Gunung Mako di Desa Alor Besar selama dua hari terakhir dipenuhi semangat belajar bersama. Aroma rebusan kunyit, nila, pinang, dan berbagai bahan alami lainnya menyelimuti ruang pelatihan, menghadirkan suasana hangat yang akrab dengan kehidupan para penenun. Dari bahan-bahan alam itulah, lahir warna-warna yang selama ini memberi karakter dan cerita pada Tenun Ikat Alor.
Pada 18ā19 Mei 2026, Ditjen Bina Pembangunan Daerah Kemendagri bersama Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) menyelenggarakan kegiatan BIMTEK UMKM di Bidang Kerajinan Wastra: Pelatihan Pembuatan dan Pemanfaatan Pewarna AlamiĀ di Kabupaten Alor.
Kegiatan ini mempertemukan pengrajin tenun, pelaku UMKM, mahasiswa, hingga generasi muda penenun untuk belajar bersama mengenai pemanfaatan bahan pewarna alami berbasis sumber daya lokal Alor.
Ketua Harian Dekranas Tri Tito Karnavian hadir membuka kegiatan didampingi Direktur SUPD III Ditjen Bina Pembangunan Daerah Kemendagri Fauzan Hasan. Turut hadir Wakil Ketua Dekranasda Provinsi NTT Vera Asadoma, Ketua Dekranasda Kabupaten Alor Lidya Siawan Winaryo, Sekretaris Umum TP PKK Pusat Lusye, Direktur Nautika Foundation Hansen Oei, serta instruktur pelatihan Siti Mardiastuti Rinawati.

Sejak hari pertama, suasana pelatihan berlangsung aktif. Peserta tidak hanya mengikuti materi di dalam ruangan, tetapi juga langsung terlibat dalam proses ekstraksi warna alami, mulai dari persiapan bahan baku, perebusan, penyaringan, hingga praktik pencelupan benang dan kain.

Pelatihan ini bukan hanya tentang menghasilkan warna, Peserta juga diajak memahami sifat-sifat bahan alami dan bagaimana setiap unsur memiliki pengaruh terhadap hasil akhir tenun. Mulai dari tingkat keasaman (pH), suhu, waktu perebusan, rasio campuran bahan, hingga proses treatment benang sebelum pencelupan dilakukan. Semua tahapan tersebut ternyata sangat menentukan kualitas warna, daya tahan, hingga karakter kain yang dihasilkan.

Bagi beberapa mahasiswa, hal ini menjadi wawasan baru bahwa di balik satu lembar kain tenun, terdapat proses panjang yang membutuhkan ketelitian, pengetahuan, dan pemahaman terhadap bahan-bahan alam. Salah satu hal yang cukup banyak dibahas selama pelatihan adalah bagaimana menjaga warna alami agar lebih awet dan konsisten. Sebab dalam proses produksi tenun, kestabilan warna menjadi bagian penting yang turut memengaruhi kualitas dan nilai produk.
Di sela kegiatan, diskusi kecil terus muncul antar peserta. Ada yang mulai membahas bagaimana warna alami bisa menjadi identitas baru bagi produk tenun Alor, ada yang membandingkan hasil warna dari bahan lokal yang berbeda, hingga obrolan tentang bagaimana produk kriya lokal dapat berkembang tanpa kehilangan akar budayanya.
Dalam pelatihan ini juga diperkenalkan pendekatan pewarna alami berbasis teknologi ramah lingkungan, yaitu penggunaan bahan alami lokal yang dipadukan dengan proses pengolahan yang lebih terkontrol untuk menjaga konsistensi kualitas warna dan daya tahan produk.
Pendekatan tersebut dinilai penting, terutama bagi para pengrajin dan pelaku UMKM yang mulai melihat peluang pengembangan produk tenun dan kriya Alor ke pasar yang lebih luas. Selain memiliki nilai estetika dan identitas budaya yang kuat, penggunaan pewarna alami juga mulai mendapat perhatian karena lebih ramah lingkungan dan memiliki nilai tambah dalam industri kreatif berbasis keberlanjutan.
Keterlibatan generasi muda penenun juga menjadi bagian penting dalam kegiatan ini. Kehadiran mereka membawa suasana belajar yang lebih hidup, mulai dari mencoba langsung proses pencelupan, mendokumentasikan tahapan produksi, hingga berdiskusi mengenai peluang pengembangan produk lokal di masa depan.
Bagi Kami (Nautika Foundation), kegiatan seperti ini bukan hanya tentang pelatihan teknis, tetapi juga tentang menjaga hubungan antara masyarakat, budaya, dan sumber daya alam lokal agar tetap saling terhubung. Sebab di banyak wilayah pesisir seperti Alor, pengetahuan tradisional sering kali tumbuh berdampingan dengan alam dan diwariskan melalui praktik sehari-hari masyarakat.
Melalui ruang belajar seperti ini, pengetahuan lokal tidak hanya dipertahankan, tetapi juga mulai dikembangkan agar tetap relevan dengan kebutuhan generasi sekarang.
Di akhir kegiatan, peserta meninjau hasil praktik bersama instruktur sambil mendiskusikan potensi pengembangan produk kriya berbasis pewarna alami sebagai bagian dari upaya memperkuat daya saing produk lokal Alor.
Dari ekstrak bahan alam, serta benang-benang yang dicelup selama dua hari di Sentra Tenun Gunung Mako, tersimpan harapan bahwa tenun Alor tidak hanya bertahan sebagai warisan budaya, tetapi juga terus tumbuh sebagai identitas lokal yang hidup, berkembang, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.




Komentar