top of page

Hari Peduli Sampah Nasional : Momentum Memilah Sampah dari Rumah, Langkah Kecil untuk Dampak Besar.

2 days ago

Bacaan 4 menit

0

1

0

Pemandangan udara tempat pembuangan sampah di Bekasi, Indonesia, memperlihatkan alat berat dan truk yang bekerja mengelola gunungan sampah seperti pegunungan.
Pemandangan udara tempat pembuangan sampah di Bekasi, Indonesia, memperlihatkan alat berat dan truk yang bekerja mengelola gunungan sampah seperti pegunungan.

Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional ini berakar dari tragedi longsor Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Leuwigajah pada tahun 2005, sebuah peristiwa kelam akibat kegagalan pengelolaan sampah. Longsoran gunungan sampah sepanjang kurang lebih 200 meter dengan tinggi mencapai 60 meter memicu ledakan gas metana. Peristiwa ini menewaskan 157 jiwa di Desa Cilimus dan Desa Pojok, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.


Peristiwa ini menjadi pengingat keras bahwa sampah bukan sekadar persoalan kebersihan, tetapi juga persoalan keselamatan, kesehatan, dan tata kelola lingkungan. Dari tragedi inilah kemudian lahir Hari Peduli Sampah Nasional sebagai momentum refleksi bersama (Tempo, 2023).

Dua puluh tahun berlalu, tantangan pengelolaan sampah di Indonesia masih terus meningkat, termasuk di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil seperti Kabupaten Alor.


TPA Leuwigajah, 2005. Gunungan sampah yang runtuh merenggut ratusan jiwa dan menjadi titik balik kesadaran pengelolaan sampah di Indonesia.
TPA Leuwigajah, 2005. Gunungan sampah yang runtuh merenggut ratusan jiwa dan menjadi titik balik kesadaran pengelolaan sampah di Indonesia.


Timbulan Sampah Terus Meningkat

Sampah merupakan konsekuensi langsung dari aktivitas manusia dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Setiap aktivitas konsumsi, baik di tingkat rumah tangga, perkantoran, maupun sektor usaha, menghasilkan timbulan sampah yang terus bertambah.

Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) menunjukkan bahwa pada tahun 2025 total timbulan sampah Indonesia mencapai 18.440.197,64 ton, atau setara dengan sekitar 3 juta ekor gajah dewasa, sebuah angka yang menggambarkan betapa masifnya beban sampah yang harus ditangani setiap tahun. Dari jumlah tersebut, sektor rumah tangga menjadi penyumbang terbesar, yakni 6.070.953,76 ton atau sekitar 56,84 persen (SIPSN KLHK, 2026). Angka ini menegaskan satu hal penting, bahwa rumah tangga adalah titik kunci dalam solusi pengelolaan sampah.


Bagi wilayah kepulauan seperti Alor, persoalan ini menjadi semakin krusial. Keterbatasan lahan TPA, biaya transportasi sampah antarpulau, serta kerentanan ekosistem pesisir membuat pengelolaan sampah tidak bisa lagi hanya mengandalkan pendekatan kumpul-angkut-buang.


Sampah Menjadi Isu Ekosistem Pesisir



Pengelolaan sampah bukan hanya isu daratan, tetapi juga isu laut dan penghidupan masyarakat pesisir. Di wilayah kepulauan seperti Alor, temuan lapangan menunjukkan bahwa sampah yang tidak tertangani di darat dengan cepat bermuara ke pesisir dan perairan, memperkuat urgensi penanganan dari hulu.

Sampah yang tidak terkelola di darat sangat mudah bermuara ke laut melalui aliran air, drainase, Alor memiliki banyak sungai Kering yang ketika musim penghujan, debit air membawa sampah yang menumpuk di saluran tersebut, Padahal, dampaknya bisa langsung terasa pada:

  1. kesehatan ekosistem terumbu karang

  2. kualitas perairan pesisir

  3. sektor perikanan tangkap

  4. pariwisata bahari

  5. kesehatan masyarakat pesisir


Nautika Foundation sedang memformulasi pendekatan pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang dimulai dari hulu, yaitu rumah tangga. Pendekatan ini tidak hanya bertujuan mengurangi timbulan sampah, tetapi juga memastikan bahwa pengelolaan sampah dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.


Dalam praktiknya, ETA mendorong agar sistem pengelolaan sampah benar-benar mengakar dan melekat di tingkat rumah tangga dan komunitas. Sampah tidak lagi dipandang sebagai beban semata, tetapi sebagai sumber daya yang dapat dikelola secara kolektif. Melalui skema pemilahan, pengumpulan, dan pemanfaatan kembali, masyarakat berpeluang memperoleh nilai ekonomi dari sampah yang sebelumnya terbuang.


Lebih jauh, pendekatan ini membuka ruang bagi penguatan mata pencaharian alternatif berbasis pengelolaan sampah. Pendapatan yang dihasilkan dari aktivitas ini dapat dikelola untuk mendukung kebutuhan komunal, seperti pemeliharaan rumah ibadah, penguatan kas desa, maupun fasilitas sosial lainnya. Dengan demikian, manfaat pengelolaan sampah tidak hanya dirasakan pada aspek lingkungan, tetapi juga pada aspek sosial dan ekonomi masyarakat.


Ketika sistem ini berjalan secara konsisten, lingkungan menjadi lebih bersih, laut lebih terlindungi, dan masyarakat memperoleh insentif nyata untuk terus menjaga praktik baik tersebut. Memilah sampah dari rumah adalah langkah sederhana yang strategis, Lebih dari sekadar kebiasaan, pemilahan sampah merupakan bentuk tanggung jawab yang melekat di setiap masyarakat. Ketika pemilahan dilakukan sejak dari sumber:

  • tidak semua sampah harus berakhir di TPA.

  • sampah organik dapat diolah menjadi kompos.

  • sampah anorganik dapat didaur ulang serta menghasilkan nilai ekonomi tambahan.

  • volume residu dapat ditekan secara signifikan.

Langkah kecil yang dilakukan secara konsisten di tingkat rumah tangga akan menghasilkan dampak besar ketika dilakukan secara kolektif. Bagi wilayah seperti Alor yang memiliki daya dukung terbatas, pendekatan ini bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.


Kenali Jenis Sampah, Mulai Pilah dari Rumah

Dalam praktik pemilahan sampah di rumah dapat dimulai dengan empat kategori utama berikut:

  1. Sampah Organik

    Sampah yang berasal dari sisa makhluk hidup dan mudah terurai secara alami, seperti sisa makanan, sayur dan buah, daun kering, serta limbah dapur. Sampah ini dapat diolah menjadi kompos yang bermanfaat bagi tanah dan tanaman.

  2. Sampah Anorganik

    Sampah dari bahan non-hayati atau hasil proses industri yang membutuhkan waktu lama untuk terurai, seperti plastik, botol kaca, kaleng, dan kertas. Jika dalam kondisi bersih dan kering, sampah ini memiliki nilai ekonomi dan dapat disalurkan melalui bank sampah atau mitra daur ulang.

  3. Sampah Residu

    Sampah yang tidak dapat didaur ulang maupun dikomposkan dengan teknologi yang tersedia saat ini, seperti popok sekali pakai, pembalut, puntung rokok, dan kemasan multilapis. Jenis ini perlu ditekan seminimal mungkin karena seluruhnya akan berakhir di TPA.

  4. Sampah B3 Rumah Tangga

    Sampah yang mengandung bahan berbahaya dan beracun, seperti baterai bekas, lampu neon, obat kedaluwarsa, kaleng pestisida, dan limbah elektronik kecil. Sampah ini tidak boleh dicampur dan memerlukan penanganan khusus.


Memahami karakteristik setiap jenis sampah adalah fondasi penting untuk membangun kebiasaan memilah yang tepat dan konsisten.


Dari Rumah di Alor, untuk Lingkungan yang Lebih Sehat

Nautika Foundation mengamati bahwa perubahan perilaku di tingkat rumah tangga memiliki efek berantai yang kuat di tingkat komunitas. Ketika satu rumah mulai memilah, tetangga mulai melihat. Ketika satu kampung mulai mengelola, beban lingkungan mulai berkurang. Ketika masyarakat bergerak bersama, Lingkungan pun ikut terlindungi.

Inilah semangat yang terus didorong melalui pendekatan berbasis komunitas di Alor, bahwa solusi besar sering kali dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.


Tingginya kontribusi sampah rumah tangga menunjukkan bahwa rumah adalah titik awal paling strategis dalam pengelolaan sampah. Melalui gerakan kolektif seperti Elevate Trash Action (ETA) di Alor, setiap keluarga didorong untuk mulai memilah dan mengelola sampahnya sebagai kontribusi nyata menjaga lingkungan. Pemilahan sampah bukanlah pekerjaan yang rumit, tetapi membutuhkan kesadaran dan konsistensi.


Hari Peduli Sampah Nasional 2026 menjadi momentum penting untuk kembali mengingat bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai dari skala besar.

Mulailah dari rumah.

Mulailah dari kebiasaan harian.

Mulailah dari langkah kecil.

Karena ketika setiap rumah bergerak, dampaknya akan terasa hingga ke laut.


Sumber

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia. (2026). Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN): Data timbulan sampah tahun 2025. https://sipsn.menlhk.go.id

Tempo.co. (2023). Tragedi TPA Leuwigajah dan sejarah Hari Peduli Sampah Nasional. https://www.tempo.co


Postingan Terkait

Komentar

Bagikan Pemikiran AndaJadilah yang pertama menulis komentar.
bottom of page