top of page

Merajut Kolaborasi, Merawat Budaya : Peran Nautika Foundation sebagai Jembatan dalam Penguatan Tenun Ikat Alor

Nov 18, 2025

Bacaan 4 menit

0

6

0

Benang-benang tenun tidak pernah berdiri sendiri. Ia lahir dari tangan-tangan sabar, dari cerita yang diwariskan lintas generasi, dan dari relasi panjang antara manusia, alam, dan budaya. Di Alor, tenun ikat bukan sekadar kain, melainkan bahasa kehidupan yang hidup di rumah-rumah sederhana para perempuan penenun.

Pada 15–17 November 2025, bahasa itu kembali mendapatkan ruang yang lebih luas. Kabupaten Alor menjadi tuan rumah kegiatan Bimbingan Teknis Peningkatan Daya Saing Tenun Ikat Alor, sebuah inisiatif kolaboratif yang digagas oleh Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) dan Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), dengan dukungan Dekranasda Kabupaten Alor. Dalam proses ini, Nautika Foundation hadir sebagai mitra pelaksana lapangan, menjembatani koordinasi antara masyarakat penenun dan pemerintah pusat, agar dialog yang terbangun tidak berhenti di seremoni, tetapi berlanjut menjadi proses yang bermakna.

Sejak hari pertama, suasana budaya terasa kuat dan hidup. Rombongan tamu kehormatan disambut oleh tarian adat Cakalele yang dibawakan oleh siswa-siswi SMP Negeri Alor Besar, sebuah simbol keterbukaan dan penghormatan masyarakat lokal. Hadir dalam kegiatan ini Ketua Harian Dekranas, Ibu Tri Tito Karnavian, Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah Kemendagri DR. Ir. Restuardy Daud, M.Sc, CGRE, jajaran pejabat pusat dan daerah, serta Ketua Dekranasda Kabupaten Alor, Ibu Lidya Siawan Winaryo.

Rombongan Dekranas dan Ditjen Bangda Kemendagri disambut secara adat melalui tarian Cakalele oleh siswa-siswi SMP Negeri Alor Besar.
Rombongan Dekranas dan Ditjen Bangda Kemendagri disambut secara adat melalui tarian Cakalele oleh siswa-siswi SMP Negeri Alor Besar.

Dalam arahannya, Ketua Harian Dekranas menegaskan bahwa pelestarian budaya daerah harus ditempatkan sebagai bagian dari arus utama pembangunan nasional. Tenun Ikat Alor, menurutnya, tidak hanya menyimpan identitas dan nilai sejarah, tetapi juga memiliki potensi ekonomi yang nyata untuk memperkuat ketahanan keluarga dan menopang kehidupan sosial masyarakat. Ia menekankan bahwa penguatan tenun tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan membutuhkan kolaborasi lintas sektor, mulai dari pelatihan teknis, penyediaan bahan baku, inovasi desain, hingga akses pasar dan hilirisasi produk budaya.


Sebagai bentuk komitmen konkret, Dekranas dan Ditjen Bangda Kemendagri secara resmi membeli 200 helai kain Tenun Ikat Alor untuk dipasarkan ke luar daerah. Bagi para penenun, langkah ini bukan sekadar transaksi, melainkan sinyal bahwa karya mereka mulai dilihat sebagai bagian dari ekosistem ekonomi kreatif yang lebih luas.


Suasana menjadi semakin personal ketika Mama Sariat Tole, Ketua Sentra Tenun Gunung Mako, menyampaikan sambutannya. Didampingi oleh Kepala Desa Alor Besar, Sirajudin Ali, S.Pd., Mama Sariat berbicara dengan suara yang tenang namun penuh makna. Ia menuturkan bahwa tenun bukan hanya pekerjaan, melainkan cara hidup. Dari tenun, anak-anak bisa bersekolah, dapur tetap mengepul, dan harapan tetap terjaga.


Dengan mata yang bergetar, Mama Sariat menyampaikan harapannya agar suatu hari Presiden Republik Indonesia dapat berkunjung langsung ke Alor dan melihat kehidupan para penenun dari dekat. Ia bahkan mengungkapkan keinginan untuk menyerahkan kain tenun sepanjang 30 meter sebagai simbol persahabatan budaya, serta sebuah karya istimewa sepanjang 150 meter yang saat ini tengah dikerjakan bersama para penenun, sebagai wujud doa, kerja kolektif, dan harapan masa depan.


“Tenun ini bukan hanya kerja tangan, tapi kerja hati,” ujarnya pelan.

Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan penyerahan plakat penghargaan, bantuan bahan baku kepada 75 penenun, serta kunjungan lapangan ke Workshop Tenun Gunung Mako. Di sana, para tamu menyaksikan langsung proses pewarnaan alami, pemintalan benang, dan penggunaan alat tenun tradisional. Pemanfaatan tumbuhan lokal sebagai pewarna alam mendapat apresiasi khusus karena dinilai memiliki nilai ekologis sekaligus potensi ekonomi yang berkelanjutan. Sebagai simbol keberlanjutan, dilakukan pula penanaman bibit kapas dan tanaman pewarna alam bersama para penenun, menegaskan bahwa budaya tidak dapat bertahan tanpa alam, dan alam tidak dapat dijaga tanpa dukungan sosial dan ekonomi yang adil.


Penyerahan bantuan benang katun sebanyak 225 bal x 44 ikat kepada 75 penenun Alor dilakukan sebagai dukungan langsung terhadap keberlanjutan produksi Tenun Ikat Alor.
Penyerahan bantuan benang katun sebanyak 225 bal x 44 ikat kepada 75 penenun Alor dilakukan sebagai dukungan langsung terhadap keberlanjutan produksi Tenun Ikat Alor.

Dalam keseluruhan proses ini, Nautika Foundation mengambil peran sebagai penghubung, memastikan bahwa suara penenun terdengar, kebutuhan lapangan dipahami, dan program pemerintah dapat diterjemahkan secara kontekstual. Bagi Nautika Foundation, pendampingan budaya adalah bagian dari pendekatan pembangunan berbasis komunitas, di mana manusia, alam, dan ekonomi berjalan dalam satu kesatuan.


Direktur Nautika Foundation, Hansen Oei, menyampaikan bahwa para penenun Alor sejatinya tidak hanya menjaga tradisi, tetapi sedang menenun masa depan. Ia mengapresiasi konsistensi komunitas penenun yang tetap setia pada kearifan lokal di tengah perubahan zaman, serta berterima kasih kepada seluruh pihak yang percaya bahwa pembangunan dapat dimulai dari budaya.

Ketua Harian Dekranas, Ibu Tri Tito Karnavian, menyerahkan plakat Dekranas kepada Mama Sariat sebagai bentuk apresiasi atas peran dan dedikasi penenun Alor dalam menjaga warisan budaya tenun ikat.
Ketua Harian Dekranas, Ibu Tri Tito Karnavian, menyerahkan plakat Dekranas kepada Mama Sariat sebagai bentuk apresiasi atas peran dan dedikasi penenun Alor dalam menjaga warisan budaya tenun ikat.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan santap siang bersama menggunakan menu khas Alor yang disiapkan oleh UMKM Ikan Asap Sebanjar, kelompok dampingan Nautika Foundation. Hidangan ini menjadi pengingat bahwa penguatan budaya, ekonomi lokal, dan pariwisata berbasis komunitas dapat berjalan beriringan.


Selama tiga hari pelaksanaan, kegiatan ini membuktikan bahwa Tenun Ikat Alor bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan fondasi masa depan. Dengan sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, komunitas penenun, dan mitra pendamping, Alor memiliki peluang nyata untuk menjadi contoh bagaimana budaya dapat dirawat sekaligus diberdayakan.


Dari helai-helai benang yang ditenun dengan kesabaran, lahirlah pesan sederhana namun kuat, bahwa harapan bisa tumbuh dari tangan-tangan ibu. Dan ketika kolaborasi terus dirajut dengan kepercayaan, Alor tidak hanya menjaga sejarahnya, tetapi juga menenun babak baru pembangunan Indonesia dari timur.

Postingan Terkait

Komentar

Bagikan Pemikiran AndaJadilah yang pertama menulis komentar.
bottom of page